Mendikbud: Sekolah Dibuka Bertahap

0
15

Pelita.online – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan pembukaan sekolah di wilayah zona hijau harus tetap mengutamakan kesehatan. Karena itu, pembukaan sekolah dilakukan secara bertahap. Sekolah menengah atas (SMA) dan menengah pertama (SMP) akan dibuka lebih dulu, kemudian diikuti sekolah dasar dan pendidikan anak usia dini (PAUD).

“Jadinya pembukaan terjadi secara sangat pelan pelan, dimulai SMA dan SMP dulu hanya untuk di zona hijau, dua bulan lagi baru SD, baru dua bulan lagi PAUD,” ujar Nadiem saat mendampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin  meninjau persiapan pembukaan sekolah di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/7).

Nadiem beralasan, siswa di SMA dan SMP dianggap dapat lebih memahami protokol kesehatan. Karena itu, pembukaan sekolah dilakukan untuk SMA dan SMP. “Untuk anak-anak yang lebih tua umurnya, protokol kesehatan, sosial distancing dan menjaga jarak itu jauh lebih mudah, maka ini adalah pra awal daripada pembukaan kembali sekolah tatap muka,” ujar Nadiem.

Nadiem berharap kepala sekolah yang akan membuka kegiatan belajar dan mengajar bisa berpikir proaktif dalam mengutamakan kesehatan. Tak hanya mengikuti imbauan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan, tetapi juga inovasi untuk keamanan dan keselamatan siswa.

“Ada hal-hal lain penting, tapi yang paling penting adalah kesehatan. Bukan hanya dari sisi hand sanitizer, dan lain-lain, saya lihat ada berbagai tindakan proaktif bukan hanya pakai masker, face mask, kotak,” kata Nadiem.

Nadiem mengambil contoh persiapan SMAN 4 yang melakukan berbagai inovasi untuk membuka kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran ini. Di antaranya penerapan tiga shift pembelajaran dari yang disarankan sebanyak dua shift.

“Itu adalah pola pikir yang sangat baik, karena mengambil langkah langkah bukan hanya berdasarkan protokol tapi melampaui protokol untuk keamanan demi keselamatan siswa, keluarga dan para guru, itu yang terbaik,” kata Nadiem.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, Pemerintah tidak mewajibkan sekolah membuka kegiatan belajar mengajar secara tatap muka langsung meski wilayahnya berada di zona hijau. Ma’ruf menerangkan, pembukaan KBM secara tatap muka dilakukan bagi sekolah yang telah memiliki kesiapan.

“Pertama kesiapan sekolahnya, walaupun daerah hijau memang nggak diwajibkan (jika belum siap),” ujar Wapres.

Pemerintah tetap mendorong kesiapan sekolah yang berada di zona hijau jika ingin membuka sekolah. Pembukaan bisa dilakukan bagi sekolah yang memiliki fasilitas cuci tangan, sanitasi, dan sistem pembelajaran dengan minimal dua shift

Ma’ruf mengatakan, saat ini sudah ada 100 daerah di Indonesia yang masuk kategori zona hijau Covid-19. Pemerintah, kata Ma’ruf, juga mendorong daerah lain untuk mengendalikan penanganan Covid-19 di wilayahnya.

“Tadinya 98, sekarang lebih dari 100 daerah hijau, karena itu kita memperbanyak, makanya kunjungan saya kesini sekaligus juga supaya ini jadi contoh daerah lain yang masih belum hijau,” kata Ma’ruf.

Hati-hati 

Ma’ruf Amin juga mengingatkan sekolah yang akan membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka untuk tetap berhati-hati. Meski wilayahnya masuk zona hijau, namun harus tetap menjalankan protokol kesehatan. “Bagaimana pendidikan dibuka di daerah hijau tapi kesehatan tetap terjaga, protokol kesehatan tetap dipelihara,” kata Ma’ruf.

Ketua Umum MUI Pusat nonaktif itu juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Sukabumi yang telah berupaya mengendalikan penyebaran virus Covid-19, sehingga Kota Sukabumi menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang masuk zona hijau. “Itu bukan hal yang mudah, tidak semua daerah bisa hijau,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten akan memberlakukan belajar tatap muka bagi siswa SD-SMP yang menjadi tanggung jawabnya. Hal itu karena sulitnya akses internet di sejumlah wilayah di Kabupaten tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lebak Wawan Ruswandi menyebut, rencana ini masih dalam tahap pembahasan dan kajian dengan Gugus tugas penanganan Covid-19 dengan tujuan supaya siswa tetap belajar.

Ia menjelaskan, jika merujuk kepada aturan Kemendikbud, sebenarnya Lebak belum dibolehkan untuk menggelar belajar tatap muka. Hal ini karena wilayahnya saat ini masih tergolong dalam zona oranye penyebaran virus korona.

“Kita kan di zona oranye pada prinsipnya dilarang oleh kementrian, tapi kan harus memilah kalau Lebak itu tidak seperti Tangerang Selatan, daerah sana (pegunungan) mana mungkin bisa online. Untuk awal kita mengkaji daerah yang dimungkinkan melaksanakan tatap muka,” jelas Wawan Ruswandi, Rabu (8/7).

 

Sumber : republika.co.id

LEAVE A REPLY