Merawat Seni Tradisional Indonesia di Era Milenial

0
74
Salah satu atraksi seni tradisional meramaikan Car Free Day (CFD) di kawasan Sudirman, Jakarta, Minggu (29/10). Kegiatan dengan nama Gelar Pesona Budaya Tabalong itu digelar untuk menunjukkan karya seni tradisional Tabalong.

Pelita.Online – Indonesia memiliki banyak macam seni dan pertunjukan tradisional sejak dahulu kala. Tiap daerah punya beragam kesenian yang membuat negeri ini mempunyai banyak hal unik, menarik, dan kreatif.

Namun perlahan-lahan, aset yang sangat hebat ini semakin luntur dan langka. Bahkan, banyak juga yang benar-benar sudah hancur atau punah sehingga tak bisa diselamatkan lagi.

Semakin berkurangnya pertunjukkan tradisional, seperti teater atau seni tari maupun yang lainnya, diyakini merupakan dampak modernisasi, ketidakpedulian generasi muda, dan juga kurangnya dukungan dari berbagai pihak. Dilansir dari laman Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), kemajuan zaman seperti saat ini tak dipungkiri memang banyak membantu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Sayangnya, kemajuan zaman juga membuat permasalahan baru. Dalam hal kesenian atau kebudayaan misalnya, terjadi ‘serangan’ kebudayaan asing ke Indonesia. Mau tidak mau, masyarakat sendirilah yang harus menyadari pentingnya merawat kebudayaan tradisionalIndonesia itu sendiri.

Tren kebudayaan asing baik dari Korea, India maupun Hollywood, sebenarnya sah-sah saja di era keterbukaan seperti sekarang. Di sisi lain, banyak pertunjukan tradisional yang tak lagi diminati oleh masyarakat Indonesia sehingga mulai menghilang dari peredaran. Lalu, bagaimana peran atau cara masyarakat Indonesia untuk melestarikan pertunjukan tradisional di era milenial?

“Ini jadi tantangan bagi para pelaku seni, kreator maupun mereka yang concern pada kesenian untuk melakukan inovasi agar lebih connected dan related terhadap situasi sekarang,” kata budayawan dan seniman Ngatawi Al-Zastrow saat dijumpai Liputan6.com di kantor Kemendikbud, Jakarta Pusat, 1 Maret 2019.

“Yang paling utama dari seni tradisi adalah eksotismenya. Hal yang unik itu yang dicari di era kapitalisi seperti sekarang in yang mengutamakan rating atau pemasukan dan keuntungan. Itu yang harus dimanfaatkan misalnya seni campursari dan beberapa tari-tarian daerah yang masih bisa eksis,” sambung pria yang selalu memakai blangkon ini.

Menurut Zastrouw, para pelaku seni harus melakukan kompromi dalam titik tertentu, agar bisa menjawab tantangan dan tidak tekesan membosankan tapi juga jangan sampai ruh atau spirit utamanya hilang.

Peran Pemerintah dan Pelaku Seni

Selain itu pemerintah juga harus berperan aktif, terutama dalam hal bimbingan dan sosialisasi serta melindungi sejumlah kesenian tradisional. Misalnya dengan melindungi para pelaku seni dari tekanan kaum radikalis yang menganggap seni tradisional bertentangan dengan agama

“Saya sering mengadakan ritual upacara adat di beberapa daerah, seperti tradisi Mertubumi di beberapa desa di Magelang, ini semacam syukuran atas hasil panen yang melimpah. Acaranya berkonsep open house selama sekitar seminggu,” tutur Al-Zastrouw.

Selama seminggu, lanjut dia, semua orang boleh datang dan akan disediakan makanan dan tempat penginapan secara gratis. “Nah, pemerintah bisa ikut membantu memberi perhatian pada tradisi yang bagus sepert ini, agar bisa terus dilestarikan dan diperbagus lagi,” ucapnya.

Ia juga menyarankan agar pemerintah menginstruksikan pada tiap departemen maupun bagian lainnya untuk membuat beragam acara yang menyelipkan seni tradisional sehingga sanggar-sanggar tari di negeri ini bisa lebih eksis.

Selain itu, perlu diadakan banyak perlombaan, misalnya kompetisi seni tari. Dengan begitu sanggar-sanggar seni bisa tetap hidup.

Lalu bagaimana dengan pendapat pelaku seni?  Salah seorang satu pegiat budaya Betawi dan pemilik sanggar lenong di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Ahmad Hanafi, punya pendapat yang hampir sama.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Ifan ini, kurang maksimalnya perhatian pemerintah membuat banyak pegiat seni budaya Betawi bergerak sendiri-sendiri meskipun tidak banyak ruang atau panggung yang diberikan. Dari segi peminat pun seperti dibahas sebelumnya, sudah sangat berkurang.

Sejumlah sanggar pun melakukan kerja seni hanya karena niat serta kecintaan kepada seni budaya Betawi sendiri. “Kita sih berharap pihak pemerintah, mau siapa pun yang nanti terpilih, dan juga Pemprov DKI dan semua pihak yang berkepentingan supaya bisa memberikan solusi terbaik. Kita berharap kebudayaan Betawi tidak semakin tergerus, dan pastinya kebudayaan dan kesenian tradisional di daerah lainnya juga berharap seperti itu,” tuturnya.

liputan6.com

LEAVE A REPLY