TNI AD Masih Selidiki 2 Kasus Besar Lagi di Intan Jaya Papua

0

Pelita.online –

Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Puspomad) Letjen TNI Dodik Wijanarko menyatakan, Tim Investigasi Gabungan yang dibentuk oleh Mabes TNI AD masih terus melakukan penyelidikan terhadap dua kasus besar yang telah menjadi atensi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk oleh Menkopolhukam RI.

Dia menjelaskan, dua kasus besar yang saat ini tengah dalam proses penyelidikan Tim Investigasi Gabungan Mabes AD adalah kasus hilangnya dua orang yang ditahan di Koramil Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua pada tanggal 21 April 2020.

Kedua, lanjut Danpuspomad, kasus kekerasan dan penembakan terhadap korban Pendeta Yeremia Zanambani yang terjadi pada tanggal 19 September 2020.

“Dua kasus itu masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan oleh Tim Gabungan. Apabila dikemudian hari sudah didapatkan alat bukti yang cukup akan dilaksanakan proses hukum,” kata Letjen TNI Dodik Wijanarko di Markas Puspomad.

Lebih jauh dia menjelaskan, Tim Gabungan Mabes AD yang terdiri dari Puspomad, Sintelad, Pusintelad, Ditkumad, dan Kodam XVII/Cenderawasih telah bekerja sejak tanggal 26 Oktober 2020 lalu di Papua. Tim Gabungan Mabes AD itu dibentuk oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa pada tanggal 22 Oktober 2020 atau satu hari setelah tim TGPF di Intan Jaya yang dibentuk oleh pemerintah melaporkan hasil temuannya kepada Kemenkopolhukam.

“Jadi tim yang dibentuk oleh Bapak Kasad ini bertujuan untuk penguatan proses hukum. Untuk menindaklanjuti hasil temuan Tim TGPF yang dibentuk oleh Kemenkopolhukam,” ujarnya.

Photo :

  • VIVA.co.id/Banjir Ambarita

Letjen TNI Dodik menambahkan, selama berada di Papua, Tim Investigasi Gabungan Mabes AD fokus pada empat kasus besar yang menjadi atensi Tim TGPF. Dari empat kasus itu, lanjut Letjen TNI Dodik, dua kasus diantaranya sudah mendapatkan titik terang, yaitu kasus pembakaran enam rumah Dinas Kesehatan di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya pada tanggal 19 September 2020, dan kasus penembakan yang terjadi di sekitar Bandara Sugapa pada tanggal 7 Oktober 2020 dengan korban pengurus Gereja Katolik, Agustinus Dawitau.

Sebagaimana telah diberitakan VIVA Militer sebelumnya, dalam kasus pembakaran enam rumah Dinas Kesehatan di Distrik Hitadipa Tim Investigasi Gabungan Mabes AD telah menetapkan 8 orang oknum TNI AD sebagai tersangka.

Sementara untuk kasus penembakan pengurus gereja Katolik Agustinus Dawitau sejumlah saksi dari Anggota TNI sudah membenarkan terdapat satu orang prajurit TNI yang menembakkan senjatanya di sekitar Bandara Sugapa pada tanggal 7 Oktober lalu. Satu orang prajurit TNI AD yang berasal dari satuan Yonif RK 400/BR itu menembakkan senjatanya ke arah seseorang yang diduga sebagai anggota kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Tapi, sejumlah saksi lain mengatakan korban yang ditembak oleh salah satu prajurit TNI AD itu memiliki postur tubuh dan rambut yang berbeda dengan Agustinus Dawitau yang mengaku dirinya tertembak oleh anggota TNI.

Dalam kasus itu, saat ini Tim Investigasi Gabungan Mabes AD kesulitan untuk mengkonfirmasi kembali kepada Agustinus Dawitau, sebab keberadaan Agustinus kini tidak diketahui. Terakhir Agustinus sempat diperiksa di RSUD Nabire, tapi yang bersangkutan justru melarikan diri dari rumah sakit tanpa meninggalkan identitas alamat dan tidak menyelesaikan administrasi. Sehingga Tim Investigasi Gabungan Mabes AD kesulitan memintai keterangan dari Agustinus Dawitau.

“Jadi dari empat kasus di Intan Jaya, masih dua kasus itu tadi yang masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan. Saya yakini bahwa kasus yang telah terjadi dan melibatkan oknum TNI AD akan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan hukum dengan terbuka dan tuntas,” tegas Danpuspomad.

 

Sumber : viva.co.id

LEAVE A REPLY