London Produksi Gas Metana Tiga Kali Lipat karena Kebocoran Gas Alam

0

Pelita.Online –  London, Inggris, dilaporkan telah memproduksi gas metana tiga kali lipat lebih banyak dari perkiraan awal karena adanya kebocoran gas alam. Hal ini diketahui melalui studi terbaru oleh para peneliti dari Imperial College London yang diterbitkan dalam Atmospheric Chemistry and Physics. Studi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar metana yang dilepaskan di London merupakan hasil dari kebocoran infrastruktur gas alam dan bukan tempat pembuangan sampah seperti yang diperkirakan sebelumnya. Ini merupakan akumulasi banyak kebocoran kecil infrastruktur gas alam dan sumber alam seperti lahan basah yang memberikan emisi gas metana ekstra dengan jumlah cukup besar.

Diketahui, gas metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada karbon dioksida dan menghasilkan efek pemanasan yang lebih kuat, tetapi tetap berada di atmosfer untuk waktu yang lebih singkat. Emisi metana di seluruh dunia menjadi perhatian utama dan menguranginya akan membantu mengatasi perubahan iklim.

Penulis pertama studi dan siswa Science and Solutions for a Changing Planet Doctoral Training Partnership Eric Saboya dari Departemen Fisika mengatakan hal serupa. “Perkiraan sebelumnya menunjukkan bahwa tempat pembuangan sampah di London adalah penghasil metana terbesar, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa kebocoran gas alam adalah masalah yang lebih besar,” ujar Saboya, dilansir dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (21/2/2022). Adapun sebelumnya, perkiraan emisi metana didasarkan pada pendekatan bottom-up dengan menghitung emisi berdasarkan statistik. Contoh salah satu caranya adalah menghitung jumlah produsen metana seperti sapi. Untuk mengetahui rata-rata perkiraan jumlah emisi yang diberikan dari sapi adalah dengan mengalikan rata-rata metana setiap sapi dengan jumlah seluruh sapi di Inggris.

Akan tetapi, studi terbaru kali ini menggunakan pendekatan top-down untuk mengambil sampel atmosfer London sebenarnya melalui peralatan yang dipasang di Imperial College London, South Kensington Campus. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah hasil pengukuran menggunakan metode lain akan memberikan hasil yang sama dengan pendekatan sebelumnya. Menggunakan pengukuran berkelanjutan yang dilakukan sejak Maret 2018 hingga Oktober 2020 dan model trasnportasi, peneliti mengetahui sumber metana berkat perbedaan kecil namun terukur antara sifat metana dari sumber yang berbeda. Angka yang diperoleh dibandingkan dengan dua inventarisasi emisi dari pendekatan bottom-up. Invetarisasi pertama yakni EDGAR menunjukkan hasil korelasi yang relatif baik dengan pengukuran konsentrasi metana total. Sedangkan inventarisasi yang lain yaitu UK National Atmospheric Emissions Inventory (UK NAEI) menunjukkan bahwa gas alam menyumbang sekitar 25 persen dari metana yang diukur di South Kensington, padahal pengukuran sebenarnya menunjukkan hasil mendekati 85 persen. Terkait hal tersebut, rekan penulis studi Dr Giulia Zazzeri dari Departemen Fisika mengatakan bahwa ini bukan masalah yang ditemui di London saja. Fenomena ini juga ditemukan di kota-kota besar lain seperti Paris dan Boston dengan hasil serupa meskipun susuan lokal sumber metana tiap kota berbeda.

Sementara rekan penulis studi lain, Dr Heather Graven juga menambahkan bahwa Inggris merupakan salah satu dari sekitar 100 atau lebih negara lain yang berkomitmen untuk mengurangi emisi metana hingga 30 persen pada tahun 2030 sebagai bagian dari COP26 di Glasgow beberapa waktu lalu. Hasil studi ini dapat digunakan untuk melacak kebocoran gas alam dan memperbaikinya sebagai bentuk kemajuan Inggris dalam komitmen lingkungan yang telah dibuat. Salah satu langkah tepat yang diambil saat ini adalah dengan memperbarui pipa logam gas alam lama dengan komposisi yang lebik baik untuk menghindari kebocoran. “Strategi mitigasi sekarang dapat diarahkan ke tempat yang paling dibutuhkan, seperti meningkatkan pipa logam lama yang bocor dengan versi plastik yang lebih baru,” pungkas Saboya.

sumber : kompas.com

LEAVE A REPLY