Ekspor China Melesat 18% Gara-gara Permintaan Asia Tenggara, Termasuk RI?

0

Pelita.Online –┬áPertumbuhan ekspor China secara tak terduga meningkat pesat pada Juli dengan kenaikan 18% dari tahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan laju tercepat tahun ini, mengalahkan prediksi analis yang hanya mencapai 15% dan kenaikan Juni 17,9%.
Kondisi ini merupakan angin segar bagi perekonomian China karena sedang masa pemulihan dari COVID-19. Di sisi lain, melemahnya permintaan global memberikan tekanan ke para pedagang.

Ekspor menjadi salah satu titik terang bagi ekonomi China pada 2022 yang kembali memberlakukan lockdown COVID-19. Pukulan keras kembali menghantam bisnis dan pasar properti yang sebelumnya jadi salah satu kekuatan China.

“Pertumbuhan ekspor China mengejutkan lagi di sisi atas. (Ini) terus membantu ekonomi China di tahun yang sulit karena permintaan domestik tetap lamban,” kata Kepala Ekonom di Pinpoint Asset Management Zhiwei Zhang dikutip dari Reuters, Senin (8/8/2022).

Sementara itu, banyak analis memperkirakan ekspor China akan memudar karena ekonomi global semakin condong ke arah perlambatan yang serius, terbebani oleh melonjaknya harga dan kenaikan suku bunga.

Sebuah survei pabrik global yang dirilis pekan lalu menunjukkan permintaan global melemah pada Juli. Hasil produksi turun ke level terendah sejak awal pandemi COVID-19 pada awal 2020.

Lebih lanjut, survei manufaktur resmi China mengindikasikan aktivitas mengalami kontraksi bulan lalu, meningkatkan kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi dari lockdown di musim semi akan lebih lambat dan lebih bergelombang dari yang diharapkan.

Meski demikian, ada tanda-tanda bahwa gangguan transportasi dan rantai pasokan yang disebabkan oleh pembatasan COVID akan terus mereda, seiring dengan puncak permintaan belanja akhir tahun.

Menurut data yang dirilis oleh asosiasi pelabuhan domestik, kedatangan peti kemas perdagangan luar negeri di delapan pelabuhan utama China naik 14,5% pada Juli, meningkat dari level 8,4% pada Juni. Sementara, peti kemas di pelabuhan Shanghai yang dilanda COVID-19 mencapai rekor tertinggi bulan lalu.

Kepala Ekonom sekaligus Kepala Penelitian di Jones Lang Lasalle Inc, Bruce Pang mengatakan meningkatnya ekspor Juli mungkin didukung oleh permintaan terpendam dari Asia Tenggara karena pasokan berkurang dan pabrik-pabrik di sana meningkatkan produksi.
“Selain itu di tengah suku bunga riil negatif dan inflasi yang melonjak, beberapa pelanggan Eropa dan AS mungkin telah memesan di muka untuk memastikan mereka memiliki barang dengan biaya lebih rendah,” tambahnya.

Analis senior di Zhixin Investment Research Institute, Chang Ran mengatakan meski pertumbuhan ekspor tinggi didukung oleh faktor harga, volume barang ekspor turun pada Juli.

“Melihat ke depan pada paruh kedua tahun ini, ekspor diperkirakan akan bertahan dalam jangka pendek, tetapi melemahnya permintaan eksternal dapat menekan mereka pada kuartal keempat,” kata Chang.

Di sisi lain, impor China pada bulan lalu melemah dari yang diharapkan, menunjukkan permintaan domestik tetap lemah. Impor naik 2,3% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan kenaikan 1% bulan Juni dan meleset dari perkiraan kenaikan 3,7%.

“Meskipun ada peningkatan permintaan domestik di tengah pelonggaran langkah-langkah pengendalian COVID, kinerja yang lemah dari sisi produksi menyeret impor,” kata seorang peneliti di CITIC Securities, Xu Shuzheng.

Sementara itu, impor minyak mentah pada Juli turun 9,5% dari tahun sebelumnya karena permintaan bahan bakar dalam negeri pulih lebih lambat dari yang diharapkan karena wabah virus baru itu.

Sumber :Detik.Com

LEAVE A REPLY